Lembaga Seni & Sastra REBOENG (LSSR), disahkan berdirinya pada bulan November 2014, namun sesungguhnya ia tidak lahir sebagai “bayi” karena jauh sebelumnya telah sering berkiprah dalam kegiatan seni dan sastra dengan bendera Ernawati Literary Foundation (ELF).

Ya, LSSR tak lain adalah ‘wajah baru’, ‘nama baru’, dan ‘semangat baru’ dari ELF yang didirikan pada bulan November 2011. ‘Kelahiran baru’ ini dibidani oleh duo sahabat – Nana Ernawati & Dhenok Kristianti –, Joko Pinurbo, Iman Budi Santoso, Andrik Purwasita, dan sejumlah nama lain.

Pilihan nama ‘REBOENG’ didasari filosofi yang indah sesuai bentuk dan fungsi rebung. Rebung yang merupakan tunas muda yang tumbuh dari akar bambu, berbentuk meruncing ke atas, bagian pangkalnya lebih lebar daripada ujungnya. Bentuk ini memberikan makna bahwa lembaga REBOENG memiliki landasan/dasar yang kokoh, yaitu kecintaan kepada seni dan sastra yang diyakini mampu mendorong tumbuh kembang kepribadian manusia ke arah yang positif. Adapun fungsi rebung sebagai bahan makanan, memberikan makna bahwa keberadaan lembaga REBOENG diharapkan berguna bagi dunia seni dan sastra Indonesia.

Tujuan LSSR tidak beranjak dari semangat para pendiri ELF, Mustofa W Hasyim dkk., yaitu mengembangkan nilai-nilai luhur bangsa (ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, keadilan dll.) melalui karya sastra.