Menyusun antologi puisi “Mata Khatulistiwa” yang yang diterbitkan oleh penerbit Reboeng sungguh merupakan kebahagiaan tersendiri. Karena selama proses penggarapannya, kami tim penyusun seolah melakoni sebuah perjalanan imajiner cukup panjang; persis seperti lelaku njajah desa milang kori di Jawa. Setapak demi setapak melangkahkan kaki menyusuri kota desa, naik turun bukit lembah, menyeberangi sungai dan menembus hutan. Berlanjut menyisir pematang di sawah ladang yang membentang dari kawasan demi kawasan, dari pulau ke pulau di seluruh Indonesia.

Di setiap daerah kami jadi mengenal iklim cuacanya, menemukan sanak-saudara baru, melakukan tegur-sapa, hingga menyaksikan geliat dan semangat hidup mereka selama ini. Tak lupa, pada kunjungan itu kami selalu bersilaturahmi dengan para penyair dan mendapat sambutan hangat, akrab dan bersahabat. Dari mereka pula kami menerima buah tangan atau kenangan berupa puisi. Menariknya, tema puisi-puisi yang dihadiahkan benar-benar mengekspresikan warna dan nilai lokalitas yang digali dari khasanah budaya kampung halaman mereka. Dari puisi-puisi itulah kami jadi dapat membayangkan fenomena yang tak kasat mata, yang lampau dan kini sudah tak ada. Termasuk denyut kehidupan di kawasan budaya yang dulu disebut Nusantara dan kini bernama Indonesia.

Gambaran perasaan ini bukannya mengada-ada. Karena keinginan melakukan semacam perjalanan muhibah untuk “membaca” kembali kehidupan budaya Tanah Air kita sudah mengharu-biru sejak beberapa waktu lalu. Keinginan itu pula yang mendasari lahirnya antologi ini, dan dituangkan menjadi  gagasan terprogram dari penerbit Reboeng pada akhir tahun 2017. Prinsipnya, dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan RI ke-73 penerbit Reboeng ingin mempersembahkan suvenir kecil bagi masyarakat sastra Indonesia. Berupa antologi puisi karya penyair Nusantara yang mengangkat atau memotret nilai-nilai lokalitas budaya masing-masing.  Dengan harapan, melalui puisi-puisi mereka kebhinekaan Indonesia jadi makin mengejawantah. Bukan lagi sekadar wacana dalam ranah sosial politik, namun juga terpaparkan secara nyata lewat karya sastra, khususnya puisi.

Sebab, di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terdapat tidak kurang dari 1.340 suku bangsa dan lebih dari 546 ragam bahasa daerah. Maka, bukan mustahil jika di negara ini tersimpan berbagai macam nilai budaya yang menjadi landasan hidup masyarakatnya. Dengan berpedoman pada nilai dan tata kehidupan mereka, ditambah nilai-nilai baru yang menjadi acuan hidup dan kepercayaannya, ternyata suku-suku bangsa di Indonesia berhasil mendirikan NKRI, kemudian menjaga dan melestarikannya hingga kini. Maka, sudah selayaknya manakala masing-masing suku bangsa dan generasi muda melakukan pengenalan dan pembelajaran terhadap nilai-nilai budaya sebangsa setanah air untuk makin merekatkan semangat patembayatan (kebersamaan) dalam menjaga keutuhan NKRI.

Selain itu, setiap karya sastra yang ditulis para sastrawan menggunakan beraneka ragam bahasa di dunia dan dikemas dalam berbagai bentuk ekspresi serta menggelar bermacam kisah maupun tema, pada hakikatnya selalu dipengaruhi oleh: 1) kepercayaan spiritual (agama) yang dianut, 2) alam dan lingkungan hidup yang menjadi tempat tinggalnya, 3) nilai-nilai sosial budaya yang membentuk dan berpengaruh besar terhadap kepribadian kreatornya (seperti pendidikan, kebudayaan, ekonomi, politik, dll). Dengan demikian, selain menyajikan ‘seni atau keindahan’, karya sastra sesungguhnya juga mengungkapkan pati-sari fenomena hidup dan nilai kemanusiaan yang bersumber pada berbagai aspek-aspek di luar sastra. Misalnya aspek antropologis, kebangsaan, agama/kepercayaan, cita-cita hidup, dan lain-lain.

Buku antologi puisi yang mengangkat tema-tema lokal kedaerahan di Indonesia yang diterbitkan oleh penerbit Reboeng ini pada hakikatnya adalah manifestasi kecil dari upaya merintis gerakan bersama: 1) membangun tradisi silaturahmi budaya dan sastra untuk mempererat kesatuan dan persatuan antar etnis (suku bangsa) di Indonesia demi keutuhan NKRI; 2) merintis upaya penggalian, pelestarian, pewarisan, dan pengembangan nilai budaya lokal (Nusantara) melalui karya sastra, khususnya puisi; 3) mewujudkan semangat “asah-asih-asuh” antar generasi serta antar profesi lintas bidang.

Maka, setelah segala sesuatunya dipersiapkan, gerakan tersebut dimulai pada bulan Januari 2018. Tim penyusun dari penerbit Reboeng menghubungi sejumlah penyair yang karyanya sudah mewarnai khasanah sastra di Indonesia.  Karena antologi ini sengaja ingin menyajikan puisi yang mengangkat nilai-nilai kampung halaman Nusantara, maka penyair yang diundang diutamakan mereka yang lahir dari seluruh wilayah di Tanah Air dan terdiri dari berbagai kelompok umur. Mulai yang kelahiran tahun 50-an hingga kelahiran tahun 80/90-an dan kebanyakan tetap tinggal dan bergiat di kampung halaman masing-masing. Walaupun akhirnya ada yang sudah pindah ke kota lain namun masih  memiliki perhatian besar terhadap nilai-nilai lokalitas yang membesarkannya.

Hasilnya, ada 55 penyair ikut berpartisipasi mengirimkan puisinya untuk antologi ini dan semuanya  benar-benar merupakan putra daerah dari berbagai suku bangsa yang berdomisili di berbagai provinsi di Indonesia. Masing-masing berasal dari Aceh, Sumatra Utara, Riau Daratan, Riau Kepulauan, Jambi, Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Bengkulu, Bangka-Belitung, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimanta Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Gorontalo, Ternate, Maluku, dan Papua.

Dari 55 penyair tersebut terdapat 12 penyair perempuan, dan 43 penyair laki-laki. Masing-masing memiliki latar belakang kehidupan beragam.  Agama dan kepercayaan mereka pun juga beragam, ada pemeluk Islam, pemeluk Katolik, pemeluk Kristen, dan pemeluk Hindu. Pendidikan atau jalur studi yang ditekuni atau pernah ditempuh juga beragam. Ada yang memiliki latar belakang ilmu sastra dan budaya, pendidikan, pertanian, agama, seni, sosial politik, filsafat, dan lain-lain. Selain bersastra, kini profesi mereka ada yang menjadi dosen, pegawai negeri, wiraswasta/pengusaha, aktivis LSM, perbukuan, jurnalisme, karyawan, pekerja keagamaan, pekerja seni, dan sebagainya.

Ternyata hampir semua penyair yang karyanya disajikan dalam antologi ini tidak hanya mencipta puisi. Banyak juga yang mencipta genre karya sastra yang lain, seperti esai, cerita pendek, dan novel. Umumnya, mereka cukup aktif mempublikasikan karya-karyanya pada media massa lokal dan nasional, bahkan semuanya sudah memiliki antologi pribadi berupa buku. Apabila disimak dalam biografi mereka, para penyair dalam antologi “Mata Khatulistiwa” juga sudah memiliki prestasi kesastraan yang membanggakan di tingkat lokal, regional, nasional, bahkan internasional.

Dalam memilih puisi yang disajikan, kaitannya dengan pemilihan tema yang diangkat maupun pola ekspresi kepuisian yang digunakan, penyusun menggunakan sikap terbuka dan akomodatif. Dalam arti, penerapan visi dan kebebasan berkreasi para penyair sangat dihargai. Mengingat antologi ini memang dipresentasikan sebagai album potret aneka-warna kehidupan sosial budaya masyarakat lokal Indonesia dalam bentuk puisi.

Maka, tim penyusun pun sangat bersyukur ketika puisi yang disampaikan cukup heterogen dalam menggarap kebahasaan maupun memformat ekspresinya. Tema yang dipuisikan pun juga cukup kaya dan beragam. Seperti fenomena kesejarahan, adat tradisi, karya budaya lokal, filosofi di balik perilaku masyarakat, agama dan kepercayaan, benturan modernitas dan tradisionalitas, dan lain-lain. Walaupun semuanya jelas bukan realitas hakiki dari apa yang disampaikan, melainkan hasil interpretasi yang dikemas menjadi puisi.

Perlu kami sampaikan, bahwa puisi yang disajikan dalam antologi ini relatif bukan semuanya karya baru (penciptaan tahun 2018). Ada juga karya-karya yang dicipta dari beberapa tahun lalu, namun tim penyusun tetap mengapresiasinya. Karena berpedoman bahwa kekuatan nilai pesan dan keindahan karya sastra yang baik akan mampu melampaui ruang dan waktu; mampu mengatasi zamannya. Maka tim penyusun berpendapat bahwa untuk mendukung tema antologi ini dimungkinkan juga memasukkan puisi-puisi hasil penciptaan dari masa lalu, asalkan tidak terlampau kadaluwarsa dan nyata-nyata layak dijadikan pondasi ide menggelar kebhinekaan dalam sastra yang digagas penerbit Reboeng.  

Untuk memperkuat makna dan ekspresi, banyak penyair  sengaja menggunakan ungkapan, simbolisasi, serta diksi berbahasa daerah. Artinya, bahasa yang lahir sebagai karya budaya, ciri khas, serta identitas suku bangsa yang bersangkutan. Karena hanya digunakan sebagai alat komunikasi lokal maka  setiap bahasa daerah kurang dipahami oleh suku bangsa yang tinggal di daerah lain. Untuk mengatasi kesenjangan pemahaman tadi, maka disertakan juga arti maknanya untuk memudahkan pembaca mengapresiasinya secara utuh.

Dalam antologi ini rata-rata setiap penyair dimuat lima puisinya. Dalam konteks keindonesiaan, penyusunannya pun dimulai dari barat ke timur, dari Aceh hingga Papua. Perlu disampaikan, urutan penyusunan ini bukan mengindikasikan bahwa posisi pada urutan awal lebih diutamakan dari yang belakangan. Namun penjajajaran tersebut hanya merupakan srategi belaka, seperti halnya ketika menggunakan urutan abjad.

Sebagai catatan pamungkas, tim penyusun dari penerbit Reboeng menyadari, bahwa materi dan penyusunan puisi dalam antologi ini belum sempurna, masih banyak kekurangan dan kelemahannya. Walaupun demikian, semoga kekurangan tersebut tidak sampai mengganggu kekhidmatan dan kenikmatan pembaca dalam mengapresiasinya. Semoga pula, lewat antologi puisi  “Mata Khatulistiwa” kita makin memahami dan menghayati pluralisme kebudayaan di Tanah Air yang kita cintai ini.

Tim Penyusun

Iman Budhi Santosa

Nana Ernawati

Latief S. Nugraha

Nurul Ilmi Elbana