Oleh: Bernando J. Sujibto

(Disampaikan dalam peluncuran dan diskusi buku “Nyalasar” di TBY, 6 Juli 2018)

“Usaha karya sastra menjadi populer atau bisa dinikmati secara populus (people, masyarakat luas) tentu saja tidak harus berasal dari sastra populer. Karya sastra populer menjadi populer sudah menjadi barang biasa tetapi karya sastra serius kemudian menjadi populer akan memantik diskusus yang menarik dalam konteks kajian kebudayaan kita secara umum. Tetapi naifnya, usaha memopulerkan karya sastra masih belum menjadi strategi dan ikhtiar serius bagi bangsa dan negara besar ini dan kecenderungannya, karya-karya sastra yang sangat berbobot dan ditulis oleh sastrawan besar negeri—seperti Pramoedya Ananta Toer, Chairil Anwar, Abdul Muis, Budi Darma, YB Mangunwijawa dan WS Rendra untuk menyebutkan beberapa—belum menjadi bagian dari populus, dan bahkan cenderung terasing dari keseharian masyarakat Indoensia.”  (Memopulerkan Karya Sastra, Kompas 30 Desember 2017)

Setiap memegang buku puisi saya kerap kali membayangkan satu hal terburuk: Apakah buku ini akan dibaca oleh khalayak? Tentu saja ini cuma sekadar pertanyaan yang menerawang tak jelas ke mana arahnya. Tapi pertanyaan serupa, saya kira, harus dijadikan refleksi untuk memikirkan ulang nasib kerterbacaan buku puisi. Karena jika pertanyaan demikian sudah menjadi rahasia umum, kesadaran dan kesediaan kita untuk bergerak dan menjawabnya dengan langkah-langkah konkrit adalah sebuah keniscayaan. Lagipula, survei untuk menentukan berapa banyak persentasi generasi muda dalam membaca (khusus) puisi, kayaknya, belum galib dilakukan di Indonesia.

Saya mempunyai optimisme tinggi terhadap gerakan literasi di tanah air yang pada akhirnya akan meningkatkan kemampuan membaca dan mengapresiasi karya-karya terbaik milik anak negeri, termasuk karya puisi di dalamnya. Faktor-faktor kemudahan yang difasilitasi oleh kemajuan teknologi dan yang terbaru misalnya adanya kebijakan pemerintah memfasilitasi pengiriman buku gratis via PT. Pos ke perpustakaan dan rumah baca masyarakat seantero negeri semakin memberi ruang positif bagi penyebaran bahan-bahan bacaan ke daerah-daerah terpencil sekalipun.

Suatu waktu saya sempat membaca sebuah data dari The National Endowment for the Arts yang telah melakukan Survey of Public Participation in the Arts tahun 2017, dan melaporkan sekitar bahwa 12 percent of adults, or roughly 28 million people, read poetry in the past year, meningkat dari survei sebelumnya tahun 2012, dengan hanya 7 percent of the population reading poetry.” Survei yang dilakukan di Amerika ini, menurut saya, bisa menjadi contoh untuk melihat secara lebih serius tentang tingkat persentase generasi muda yang membaca karya puisi.

Survei seperti di atas sebenarnya cukup mudah bisa dilakukan khususnya oleh mahasiswa dari kampus-kampus berjurusan Sastra Indonesia di Indonesia. Universitas-universitas negeri yang mempunyai fakultas sastra,  baik dimulai per daerah ataupun nanti ke ranah nasional, akan sangat bermanfaat jika melalukan pembaruan data tentang tingkat literasi dalam karya sastra, khususnya karya puisi. Data yang dihasilkan oleh kampus-kampus tersebut bisa menjadi masukan bagi pemerintah dan juga institusi-institusi terkait di Indonesia. Di samping itu, rakyat Indonesia secara umum juga membutuhkan data demikian untuk melihat tingkat literasi dalam membaca dan mengakses karya puisi di Indonesia.

Selain itu, cara membahas puisi seperti yang dilakukan Kiai Faizi dengan #tafsirpuisimanasuka terhadap puisi dari banyak penyair Indonesia adalah angin segar di tengah kemarau panjang apresiasi dan kritik terhadap puisi dan karya sastra secara umum. Meski apa yang dilakukan Kiai Faizi tidak secara serta-merta menjadi kritik sastra, misalnya jika harus mengikuti kaidah akademik dan sejnisnya, kegiatan suka-suka seperti ini lahir dari inisatif yang hati dan jiwa yang jernih, tanpa ada pretensi selain karena melakukan semua itu atas dasar kerelaan. Kegiatan suka-suka menafsir puisi ala Kiai Faizi dilakukannya di media sosial berupa Facebook yang seri esai-esainya terkumpul dalam buku berjudul Nyalasar, Bahasa Madura untuk menggambarkan aktivitas mempercantik atau memperhalus kayu (bagi masyarkat dengan kultur ukir di Madura).

Nyalasar adalah sebuah ikhtiar, cara Kiai Faizi untuk me-nyalasar puisi agar bisa dibawa ke selasar di mana publik bisa mengaksesnya. Ihtiar seperti ini, setidak-tidaknya, menawarkan hal penting yang patut diapresiasi. Pertama, Kiai Faizi mengajarkan tentang membaca puisi sesusai dengan cara dan seleranya sendiri.

Demikianlah, para pembaca budiman. Jika Anda mau mendakik-dakik dan serius, pergilah ke fakultas-fakultas sastra da nke dalam buku-buku ilmiah. Yang saya tulis hanyalah hal-hal ringan saja sebagai wujud silaturahim pembaca untuk penyair yang karya-karyanya selesai dia baca” (hal. 21).

Sejak dalam esai-tafsir puisi pertama karya Malkan Junaidi, Kiai Faizi sudah jelas menunjukkan cara, sikap dan visinya dalam menafsir puisi. Sehingga jangan heran jika kemudian kita menemukan pernyataan-pernyataan seperti Di sinilah, mengapa tafsir puisi dari saya akan berbeda dengan tafsir Anda (hal. 25); Puisi-puisi yang saya ulas—termasuk yang ini—tidak mengandung unsur pesanan apalagi tekanan (hal. 30); dan Maaf, saya agak ngelantur (hal. 44) yang menguatkan argumen tentang rasa dan selera suka-suka ala Kiai Faizi dalam menulis tafsir puisi dalam Nyalasar. Suka-suka di sini jangan dimaknai sebagai aktivitas usil dan sia-sia. Kesuka-sukaan Kiai Faizi dalam menafsirkan puisi-puisi dalam buku Nyalasar lebih sebagai bentuk ekspresi kultural yang melekat dan terkonstruksi pada diri seorang kiai pesantren yang, kata orang Turki, mütevazı atau, dalam bahasa luar Madura disebut humble!

 

Dengan asas cara suka-suka dan selera melalui esai-tafsir puisi, melalui Nyalasar Kiai Faizi seperti ingin menunjukkan kepada pembaca luas bahwa puisi adalah medan tafsir yang polyphonic di mana setiap suara dan identitas bisa melakukannya. Singkatnya, puisi jangan lagi dianggap sebagai objek kajian yang rumit dan dakik-dakik, alih-alih hingga mendefinisikan dan melahirkan kelas pembaca tersendiri untuk sekedar menikmatinya. Kiai Faizi pasti tidak akan menyukai melulu pencitraan tinggi atas puisi. Satu sisi, disiplin akademik dan pencitraan tinggi terhadap puisi boleh sebagai apresiasi atas karya sastra. Tetapi di sisi lain—dan ini yang sedang dan telah dilakukan Kiai Faizi—menghadirkan puisi ke gelanggang populis, ke serambi rakyat luas, adalah perjuangan pelaksanaan kata-kata, meminjam larik puisi W.S. Rendra.

Belajar kepada cara kerja Nyalasar adalah menelisik tentang kesediaan akan tantangan untuk menafsirkan puisi dengan kapasitas masing-masing, dengan latar pengetahuan, cara, dan selera. Dengan cara begitu puisi tidak akan pergi lebih jauh lagi dari dunia kebudayaan, di mana puisi lahir di tangan penyairnya.

Kedua, silaturahim, kosa kata yang sangat pesantren dan telah menjadi pandangan dunia Kiai Faizi (Faizi’s world view). Terma silaturahim terdiri dari shilah yang berarti hubungan dan rohim kerabat, belas kasih dan sayang. Ketika esai-tafsir puisi Nyalasar menjadi lokus aktualisasi bagi silaturahim, serat-serat paling esensial dari roda kebudayaan manusia, dalam konteks literasi, sebenarnya sudah aktif menggelinding. Cara membangun hubungan dengan kerabat, teman dan orang lain dengan landasan belas kasih dan sayang adalah nilai-nilai luhur silaturahim literasi yang dilakukan Kiai Faizi. Dari silaturahim literasi begini sangat mungkin merambah kepada silaturahim aktual¸ di mana sapaan, pertemuan langsung dan peristiwa cabis (sowan) bisa terjadi secara live. Komposisi silaturahim literasi yang telah dilakukan Kiai Faizi: (a) Membaca/menyapa karya penyair (karya kebudayaan); (b) Pesan si penyair dicoba untuk dijabarkan/ditafsirkan; (c) Si penyair akan merasa senang karena karyanya dibaca dan diapresasi; (d) Publik (jamaah Fesbukiyyah khsusnya) membaca dan menikmati makna-makna puisi hasil dari tafsir Kiai Faizi dengan sematan aspek-aspek tradisi, mitos, agama, dan humor.

Silaturahim yang dilakukan Kiai Faizi lewat Nyalasar adalah silaturahim dunia maya, via media sosial, konsekuensi atas perkembangan kebudayaan kita yang makin canggih. Silaturahim, seperti juga aktivitas sosiologis manusia secara umum, sudah bergerak dari yang fisik menuju non-fisik. Tidak ada yang salah dengan itu. Simulasi dunia internet, dengan bantuan teknologinya yang makin canggih, mampu menghadirkan aktualitas dan bahkan menghapus anggapan dunia maya karena nyaris semuanya menjadi aktual dan faktual. Misalnya, ketika kita bersilaturahim dengan satu kerabat atau teman via Facebook, di sana sudah tersedia fitur chatting dengan suara, gambar dan video sekaligus, di mana hal-hal yang aktual sebebnarnya terjadi

Ikhtiar silaturahim ini benar-benar diselami oleh Kiai Faizi dengan membuka ruang dialog, bahkan bukan hanya antara Kiai Faizi dan penyair, juga membuka lapak silaturahim pemikiran dengan teman-teman Facebook yang lain. Momentum dan ruang yang memungkinkan terjadinya dialog misalnya disampaikan dengan “Anis Sayidah boleh protes andai saja pembacaaan saya ini keliru, tetapi demikian inilah yang telah terjadi” (hal. 48) yang bisa dibaca untk tujuan memancing komentar.

Ketiga, memanfaatkan keluasan sudut pandang. Cara ini dilakukan Kiai Faizi untuk membingkai khazanah tentang interpretasi puisi yang rada serius tapi santai, selera keakraban, persahabatan, dan humor. Kiai Faizi melakukan kerja mengulas puisi-puisi dalam buku Nyalasar dengan beragama cara: santun, hati-hati, sabar dan penuh hormat, seperti esai-tafsir puisi Ya, Kekasih karya W.A.A Ibrahimy (karena sama-sama kiai, harus menjaga adab kepada guru), Pada Sebuah Ucapara Turun Tanah karya Iman Budhi Santosa (sebagai guru sastra dan senior), Doa Seorang Pesolek karya Joko Pinurbo (mungkin menjadi salah satu inspirator bagi Kiai Faizi), Pohon Shahabi karya Nana Ernawati (seorang penyair yang menggerakkan literasi dan sastra), dan Masjid Jami’ Bluluk karya Abdul Wachid BS (penyair yang puisinya diulas paling panjang dalam buku Nyalsar); rada ugal-ugalan seperti esai-tafsir puisi sebab cinta karya Kim Al Ghazoli AM; dengan sentuhan selera humor seperti dalam puisi Abaya Hitam karya Ben Sohib, Tanding Puisi: Sahlul Fuad & Binhad Nurrohmat, Suatau Sore di Stasiun UI Depok karya Zeffry J. Alkatiri, Kepada Tuan Sapardi karya Nanang Suryadi, dan Ode Buat Seorang Penyanyi Dangdut karya Acep Zamzam Noor; bahkan ada tafsir puisi yang menyerah, menunjukkan ketidaksanggupan Kiai Faizi dalam mengulasnya, yaitu pada puisi Afrizal Malna berjudul Dalam Gereja Munster. Di tengah ketidaksanggupan itu, Kiai Faizi bertanya (kepada siapa?): Sekarang saatnya bertanya, apakah tafsir ini berguna? (hal. 99).

Akhirnya, dengan terbitnya buku Nyalasar, pertanyaan di atas sudah terjawab dengan sendirinya: ya, berguna sekali. Kiai Faizi sudah pasti tidak pernah terpikir bahwa apa yang dilakukannya di status Facebooknya itu akan menjadi sedemikian penting dan diapresiasi oleh Ibu Nana Ernawati lewat Lembaga Seni dan Sastra Reboeng. Saya tidak mempunyai asa apa-apa lagi selain mengucapkan “Selamat melanjutkan dengan karya-karya baru, Kiai!”.

Bernando J. Sujibto, esais