Latar Belakang Pemikiran

Di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terdapat tidak kurang dari 1.340 suku bangsa dan lebih dari 546 ragam bahasa daerah. Maka, bukan mustahil jika di negara ini tersimpan berbagai macam nilai budaya yang menjadi landasan hidup masyarakatnya. Dengan berpedoman pada nilai dan tata kehidupan mereka, ditambah nilai-nilai baru yang menjadi acuan hidup dan kepercayaannya, ternyata suku-suku bangsa di Indonesia berhasil mendirikan NKRI, kemudian menjaga dan melestarikannya hingga kini. Maka, sudah selayaknya manakala masing-masing suku bangsa dan generasi muda melakukan pengenalan dan pembelajaran terhadap nilai-nilai budaya sebangsa setanah air untuk makin merekatkan semangat patembayatan (kebersamaan) dalam menjaga keutuhan NKRI.

Setiap karya sastra yang ditulis para sastrawan menggunakan beraneka ragam bahasa di dunia dan dikemas dalam berbagai bentuk ekspresi serta menggelar bermacam kisah maupun tema, pada hakikatnya selalu dipengaruhi oleh: 1) kepercayaan spiritual (agama) yang dianut, 2) alam dan lingkungan hidup yang menjadi tempat tinggalnya, 3) nilai-nilai sosial budaya yang membentuk dan berpengaruh besar terhadap kepribadian kreatornya (seperti pendidikan, kebudayaan, ekonomi, politik, dll). Dengan demikian, selain menyajikan seni atau keindahan, karya sastra sesungguhnya juga mengungkapkan pati-sari fenomena hidup dan nilai kemanusiaan yang bersumber pada berbagai aspek-aspek di luar sastra. Misalnya:

Aspek antropologis: setiap sastrawan (juga seluruh manusia di dunia) memiliki tanah kelahiran serta kampung-halaman di mana mereka hidup dan menjadi tempat tinggalnya secara fisikal. Sebagai penghuni atau bagian nyata dari kampung-halaman tersebut, tentulah yang bersangkutan memiliki ikatan batin, kecintaan, perhatian, empati, dan komitmen cukup tinggi terhadap berbagai hal yang terdapat di sana. Karena beragam nilai kampung-halaman tersebut, disadari atau tidak, telah banyak menyatu dan membentuk kepribadiannya. Sadar tidak sadar, nilai kampung-halaman (kehidupan masa kecil maupun realitas kekinian yang menjadi tempat tinggal) seringkali tetap mengejawantah ke dalam gerak perbuatan setiap orang, termasuk ketika mencipta karya sastra.
Aspek kebangsaan: Indonesia atau Nusantara yang terdiri dari delapan belas ribu pulau merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Pada sisi lain, Indonesia juga menjadi kampung-halaman dari puluhan (bahkan ratusan) suku-bangsa yang memiliki simpanan kekayaan nilai budayanya masing-masing. Meskipun telah lahir Negara Kesatuan Republik Indonesia sejak 1945, tidak membuat tradisi sosio-budaya yang beraneka ragam dan menjadi acuan hidup mereka lenyap, tersedot atau tertindih oleh hegemoni kebudayaan baru yang nasionalistik, melainkan tetap menemukan fungsi manfaat serta aktualisasinya di daerah masing-masing. Bahkan boleh dikata, justru nilai-nilai budaya lokal itu telah banyak berperan menyumbang terbentuknya nilai budaya baru (keindonesiaan) yang kokoh.

Buku antologi puisi yang mengangkat tema-tema lokal kedaerahan di Indonesia pada hakikatnya adalah manifestasi kecil dari upaya merintis gerakan bersama: 1) membangun tradisi silaturahmi budaya dan sastra untuk mempererat kesatuan dan persatuan antar etnis (suku bangsa) di Indonesia demi keutuhan NKRI; 2) merintis upaya penggalian, pelestarian, pewarisan, dan pengembangan nilai budaya lokal (Nusantara) melalui karya sastra, khususnya puisi; 3) mewujudkan semangat “asah-asih-asuh” antar generasi serta antar profesi lintas bidang.

Rencana Program
– Lembaga Seni dan Sastra Reboeng melalui lini penerbitannya, Penerbit Reboeng, akan menerbitkan antologi puisi yang berisi puisi-puisi berbahasa Indonesia karya penyair dari berbagai etnis di Indonesia yang mengangkat nilai-nilai lokal kedaerahan.
– Peluncuran antologi puisi ini direncanakan untuk menyongsong (memeriahkan) peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke-73 tahun 2018.
– Menyebarkan antologi puisi ini untuk perpustakaan, kampus, sekolah, lembaga bahasa, sastra, dan kebudayaan di Indonesia dan manca negara.

Manfaat Program
– Memperkaya tema penggarapan karya sastra Indonesia, khususnya pada genre puisi.
– Memperkenalkan kekayaan budaya dan nilai-nilai kearifan lokal Indonesia melalui karya sastra.
– Menjembatani terjadinya “silang budaya” di masyarakat, guna memperkokoh ikatan kebangsaan Indonesia.
– Memberikan bahan edukasi bagi generasi muda, pelajar dan mahasiswa yang tengah mempelajari sastra dan bahasa Indonesia.

Tim Penyusun:
Iman Budhi Santosa
Nana Ernawati
Latief S. Nugraha
Nurul Ilmi Elbana