Kata Pengantar

Oleh Iman Budhi Santosa

Periode 1976-1996, lembar kebudayaan harian Pikiran Rakyat, Bandung, diasuh oleh penyair Saini K.M. Salah satu rubrik tetapnya yang legendaris adalah “Pertemuan Kecil”. Rubrik tersebut memuat apresiasi puisi yang ditulis oleh Saini K.M. sendiri dan diperuntukkan bagi generasi muda yang mulai belajar bersastra waktu itu. Paparannya singkat, padat, terang, jelas, dan menarik sebagai bahan pembelajaran untuk mengenal puisi dalam rangka menumbuhkan kreativitas berkarya. Berkah dari “Pertemuan Kecil” itu muncul sejumlah penyair dari Jawa Barat yang karya-karya mereka berhasil mewarnai zamannya. Seperti Acep Zamzam Noor, Soni Farid Maulana, Agus R Sarjono, Beni Setia, Cecep Syamsul Hari, Juniarso Ridwan,  Nenden Lilis Aisyah, Wan Anwar,  Saeful Badar, dan banyak lagi yang lain.

Kini, semangat seperti diwujudkan Saini K.M. di Bandung dan Umbu Landu Paranggi di Yogya dan Bali,  juga ditunjukkan oleh M. Faizi di Madura. Dalam buku kecilnya yang diberi judul “Nyalasar”, penyair yang juga kiai dari Sumenep, Madura, ini coba melakukan tafsir terphadap karya 29 penyair Indonesia. Seperti karya Acep Zamzam Noor (Tasikmalaya), Afrizal Malna (Jakarta), Iyut Fitra (Padang), Joko Pinurbo (Yogyakarta), Raudal Tanjung Banua (Yogyakarta),  Jamil Massa (Gorontalo), Nuryana Asmaudi SA (Bali), Made Adnyana Ole (Bali), Nana Ernawati (Jakarta), Zeffry J. Alkatiri (Jakarta), Rudi Fofid (Maluku), dan karya-karya penyair lain yang cukup berbobot. Menariknya, dari karya 29 penyair tadi M. Faizi hanya memilih satu puisi yang coba ditafsirkan melalui metode semacam parafrase. Ditambah dengan komentar atau ulasan singkat untuk  lebih mengerucutkan pemahaman pembaca terhadap puisi tadi.

Interpretasi puisi karya M. Faizi jadi makin menarik dicermati ketika tidak banyak sastrawan, kritikus, dosen, guru, yang melakukan upaya seperti itu. Artinya, coba membawa puisi ke ranah yang lebih benderang dengan tafsir yang jujur sehingga pembaca mafhum mengenai arti maknanya dengan jelas. Elan vital seperti ini, tentulah berkat dorongan semangat “kekiaian” yang telah mendarah daging pada dirinya. Tak ubahnya guru yang selalu ingin membantu dan berbagi ilmu kepada siapa pun yang ingin belajar mengenai ilmu pengetahuan, dan kehidupan alam semesta. Kebahagiaan seorang kiai maupun guru adalah ketika dia mampu “memberi” kebaikan dan pencerahan kepada masyarakat atau umatnya.

Manakala direnungkan lebih jauh, besar kemungkinan M. Faizi diam-diam telah berdakwah melalui puisi di Madura. Melakukan dakwah dan pembelajaran kepada para santri dan masyarakat mengenai moral, akhlak, budi pekerti, menggunakan puisi para penyair di atas. Artinya, memadukan kaidah keagamaan dengan makna pesan puisi yang telah ditafsirkan selama ini. Karena menurut beliau, upaya penafsiran puisi seperti terkumpul dalam Nyalasar ini akan dilanjutkan dengan puisi karya penyair Indonesia berbagai generasi lainnya.

Pada sisi berikutnya, jika kita memahami puisi tak ubahnya sedekah, M. Faizi nyata-nyata telah mengajarkan masyarakat pembaca sastra melakukan semacam atur panuwun (ucapan terima kasih) kepada para penyair yang puisinya ditafsirkan. Agaknya, sebagai kiai sekaligus penyair M. Faizi menyadari. Bahwa mencipta puisi bukan perkara mudah, bukan main-main, bukan sembarangan. Walaupun wujud fisiknya kadang hanya berupa larik-larik kalimat singkat serta bait, puisi adalah buah dari puncak-puncak renungan yang didukung oleh totalitas energi kasat mata dan tidak kasat mata penyairnya. Persis seperti hadirnya bayi, ia tidak akan terwujud dan mewujud jika tidak diizinkan dan mendapat berkah Allah SWT untuk lahir dan sampai ke tangan kita. Artinya, proses seorang penyair melahirkan puisi tak jauh berbeda dengan seorang ibu yang toh nyawa ketika melahirkan bayinya ke dunia.

Setelah puisi lahir ke dunia, oleh penyairnya benar-benar dipersembahkan kepada umat manusia. Dengan ikhlas dan rendah hati, para penyair telah memberikan buah pikirnya yang digali dari relung hati nurani terdalam untuk memperkokoh harkat dan martabat kemanusiaan. Memang, pengemasannya melalui strategi displacing of meaning, disguise of meaning, dan creating meaning, sehingga kadang agak sulit dipahami oleh pembaca awam. Namun, dalam setiap puisi selalu terkandung keindahan dan pesan muatan yang bermanfaat bagi siapa pun yang sedia mengapresiasinya. Dan manakala pembaca telah memperoleh manfaat batin dari puisi-puisi tadi, melalui buku kecil ini M. Faizi mengajak kita semua untuk belajar mengucapkan terima kasih dan ikut menyebarkan makna dan pesan muatan tadi agar diapresiasi lebih luas lagi. Salah satu caranya, dengan memberikan catatan kesan atau tafsir positif yang dapat dipertanggungjawabkan validitasnya.

Upaya yang dilakukan M. Faizi ini langsung tak langsung juga mewujudkan ajakan pemerintah dalam menggalakkan tradisi literasi di kalangan generasi muda. Yaitu, melakukan kebiasaan berpikir yang diikuti proses membaca dan menulis yang pada akhirnya akan menciptakan sebuah karya. Membudayakan atau membiasakan berliterasi pun perlu diikuti dengan munculnya kesadaran atau motivasi dari dalam diri. Jika selama ini, pembaca puisi kebanyakan bersikap pasif (kadang hanya sampai pada tingkat “menyukai”), M. Faizi mengajak berbuat lebih dari itu. Yakni, coba melakukan interpretasi tertulis yang dapat dibukukan (didokumentasikan).

Interpretasi yang berarti penafsiran seperti dilakukan M. Faizi dalam buku ini, seolah-olah menerjemahkan teks lama menjadi teks baru. Sepadan dengan membuat parafrase yang menerangkan, memaparkan “inilah yang dimaksudkan”. Dalam sejarah kritik sastra, istilah ini khusus dipakai bagi analisis yang menerangkan dan mengartikan sebuah karya sebagai kesatuan bentuk dan isi. Dari satu sisi, interpretasi mengakui otonomi sebuah karya, sedang di sisi lain juga mengakui pentingnya kemampuan interpretator yang berbakat untuk menghayati karya itu secara intutitif. Interpretasi berusaha menunjukkan arti sebuah karya, entah sebagai intensi atau sebagai realisasi. Dalam kasus penelitian resepsi, di sini melukiskan teks sebagai sebuah struktur terbuka yang baru memperoleh arti sesudah terjadi interaksi dengan pembaca. Artinya, di sini pembaca mengkonkretkan sebuah teks, tetapi tidak setiap konkretisasi dapat disebut interpretasi. Realisasi spontan yang terjadi sesudah kontak pertama disebut “resepsi”, tetapi di sini pun sudah terjadi semacam seleksi. Resepsi itu sering tidak memadai, bahkan melawan maksud teks apabila pembaca bersikap konsumtif belaka. Sedangkan interpretasi justru merupakan realisasi teks yang lebih ilmiah dan metodis.

Sampul Buku "Nyalasar"

Sampul Buku “Nyalasar”

Akhir kata, membaca tafsir puisi M. Faizi dalam buku ini, sama halnya kita melakukan perjalanan mendaki gunung. Berjalan setapak demi setapak, memperhatikan kanan-kiri, atas-bawah. Menghindari jurang terjal, berani memanjat tebing, tidak memaksakan diri melawan alam yang tak mungkin dikalahkan. Tidak merusak lingkungan, terus berdzikir, melafalkan doa mohon keselamatan kepada Allah SWT. Sesampainya ke puncak gunung, ketika langit tetap jauh, sendiri pada ketinggian, tak ada burung dan semut, maka kita pun akan bersujud menyaksikan kebesaran alam semesta yang tak mungkin kita gapai dengan pikiran dan perasaan belaka.

Menemukan dan menghayati makna puisi seperti ditafsirkan M. Faizi, barangkali seperti berada pada ketinggian yang tak terkira. Sehingga kita percaya, puisi merupakan salah satu puncak pencapaian tertinggi kehidupan yang mampu dicptakan umat manusia. Selamat pada kiai-penyair M. Faizi atas tafsir cerdasnya, dan selamat kepada Penerbit Reboeng yang telah sedia menerbitkan buku kecil yang langka ini. Semoga bermanfaat.

Yogyakarta, 15 Mei 2018

*Pengantar ini ditulis untuk buku “Nyalasar” karya M. Faizi yang akan terbit Juni 2018 dari Penerbit Reboeng

 

-Admin El-