Oka Rusmini, seorang novelis dari Bali yang banyak menyajikan perspektif kritis terhadap budaya patriarki yang mendominasi kehidupan dan tradisi Bali, begitu bersemangat dan menggebu-gebu dalam sesi diskusi bertema the mother lode. Sesi ini membicarakan bagaimana pandangan terhadap sosok ibu dalam semua pengertian. Ada warisan mengenai mitologi ibu bumi yang dikisahkan atau diwariskan oleh ibu kita dan gagasan mengenai feminisme. Ada pula pandangan terhadap sosok ibu yang tidak hanya dianggap sebagai pengayom dan penyayang tetapi sebagai bagian dari penindas.

Dalam bukunya yang berjudul Tarian Bumi, Oka dengan sangat jelas mempersoalkan kedudukan perempuan Bali dalam sistem kasta yang ada di Bali. Meskipun menulis mengenai kritik-kritik terhadap kebudayaan setempat itu bukanlah hal yang mudah, karena biasanya akan mendapat tekanan atau cibiran, tetapi Oka tetap berencana akan menulis yang lebih keras lagi di tahun yang akan datang. Dalam karya-karyanya, Oka menyajikan pertentangan antara anak perempuan dengan ibunya atau ibu mertua dengan menantu perempuannya. Ketika kita berbicara tentang feminisme dan perjuangan hak perempuan, sebenarnya musuh perempuan adalah perempuan itu sendiri. Ibu dalam konteks modern, hadir bukan hanya sebagai penindas, tetapi juga pembunuh. Dia menyampaikan pernah ada berita ibu dengan sengaja menduduki bayinya sampai mati. Sosok ibu dalam kepalanya sejak kecil bukanlah sosok ibu dalam pandangan mitologi.

IMG_20171028_115048

(Sesi diskusi dengan tema The Mother Lode)

Oka mengaku sedang melakukan sebuah riset mengenai perempuan. Dia menemukan ada perempuan-perempuan yang menikah dengan binatang. Ada pergeseran-pergeseran mitologi ibu. Ibu tidak hanya seperti dalam dongeng yang dikenal anak-anak. Sesungguhnya dalam teks-teks lama sosok ibu malah lebih mengerikan. Tetapi tidak diungkapkan, masih tertahan.

Seorang peserta memberi pendapat perihal menghilangkan cerita kekerasan tentang sosok ibu kepada anak-anak. Menurutnya, anak-anak akan menyerap apa yang ia baca, dengar, dan lihat sebagai bagian dari hidupnya di masa yang akan datang. Dia setuju bahwa memang tidak semua ibu itu baik, tetapi ia tidak setuju apabila ibu yang tidak baik menjadi cerita yang diwariskan atau didongengkan kepada anak-anak. Kata Oka Rusmini, kita memang tidak boleh menawarkan hal-hal yang berbau kekerasan. Tapi kalau kita mau mendeteksi lagi dongeng-dongeng kita, ia juga penuh dengan kekerasan. Diceritakan ada raksasa yang jahat, dia menghantam, mencabik-cabik, mencakar, keluar darah, dsb. Jika kisah itu disampaikan kepada anak-anak tentu dengan strategi tertentu dan ekspresi tertentu supaya anak-anak paham dan menerima itu bukan sebagai kekerasan. Karena itulah sosok ibu harus hadir memberi penjelasan.

-admin el-