Sebuah sesi dengan tema estern winds of change di hari kedua Ubud Writers and Readers Festival, tanggal 27 Oktober, sudah saya tandai di buku program yang diberikan panitia. Ada tiga pembicara muda yang masing-masing membicarakan bagaimana keadaan “timur”. Erich Langobelen yang berasal dari Maumere, Nusa Tenggara Timur, mempertanyakan pandangan kebanyakan orang terhadap timur yang selalu dianggap inferior.

Bagi Bayu Pratama yang seorang cerpenis dari Mataram, Nusa Tenggara Barat, tanah kelahirannya seolah tak dilirik sama sekali oleh dunia. “Ibarat sebuah peperangan, kita ini belum bertarung”, ujarnya. Jika daerah lain dilirik dari segi wisata, kuliner, kebudayaan, penulisnya, dan sebagainya, Mataram sama sekali menjadi daerah yang tak diacuhkan.

Sementara itu, Ibe S. Palogai sebagai pembicara dari Makassar, Sulawesi Selatan, lebih banyak menyoroti soal identitas dan asal usul. Dalam karyanya dia banyak memotret kejadian yang berangkat dari kisah perang Kerajaan Makassar melawan VOC. Selepas perang orang-orang merantau dan membawa dendam masing-masing ke mana-mana. Periode perantauan di Sulawesi Selatan yang terakhir adalah setelah peristiwa G30S. Anak-anak muda saat ini ketika ditanya mengenai asal-usul akan mengalami krisis identitas. Misalnya pertanyaan “kamu berasal dari mana?”. Itu terjadi karena dampak dari perantauan. Perkawinan antara perantau dengan orang di tempat perantauan akan menghasilkan keturunan yang mulai mempertanyakan identitasnya. Dia memberi contoh, misalnya, seorang perempuan Bugis yang menikah dengan seorang lelaki Jawa. Hal itu akan berpengaruh terhadap identitas anak yang dilahirkannya.

-admin el-