Sutardji Calzoum Bachri, salah satu penyair kenamaan di Indonesia mengisi sesi main program di hari kedua Ubud Writers and Readers Festival. 27 Oktober 2017 Jam 14.30 bertempat di Indus Restaurant dengan ditemani Debra Yatim sebagai moderator dan seorang penerjemah, ia diberi sesi untuk berbicara seputar pembebasan kata-kata dari makna sosial.

IMG_20171027_144927_HDR

(Sesi diskusi bersama Sutardji Calzoum Bahri)

Sutardji menyampaikan bahwa kata-kata bukanlah benda mati. Kata-kata adalah creature, atau makhluk. Sebagai creature, dalam bentuk ekstremnya, puisi atau kata menciptakan dirinya sendiri. Bukan penyair yang menciptakan kata-kata. Bukan penyair yang menciptakan puisi. Tapi kata yang menciptakan puisi. Dia mencontahkan, misalanya kata-kata dalam sebuah gurindam atau pantun. Sebuah pantun yang berbunyi “kalau ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi. Kalau ada umur panjang, boleh kita jumpa lagi”. Atau sebuah pantun “pulau pandan jauh di tengah, di balik pulau angsa dua. Hancur badan dikandung tanah, budi baik dikenang jua. Anggapan kita, seolah-olah penyair anonim itu membuat dulu konten dari pantun tersebut, yakni isinya yang dibuat terlebih dahulu yang berbunyi “hancur badan dikandung tanah, budi baik dikenang jua”. Padahal sebenarnya tidak.

Jika kata-kata dilihat sebagai makhluk, maka yang pertama datang di inspirasi dan pertama-tama ditulis sebenarnya adalah sampirannya, yakni “Pulau pandan jauh di tengah”. Kalimat “pulau pandan jauh di tengah” ini adalah makhluk. Dia menarik makhluk lain yakni “hancur badan dikandung tanah”. Bagi Sutardji karakter dari sebuah sajak atau puisi adalah irama. Baginya irama adalah tubuh daripada bahasa. Irama menarik irama yang serupa. Dari bertemunya irama-irama akan muncul makna-makna tertentu yang sebenarnya bukan dikuasai oleh si penyairnya. Melainkan atas kuasa kata-kata itu sendiri. Dalam bentuk ekstrem, puisi itu menuliskan dirinya sendiri. Dari situlah muncul kebebasan kata-kata.

Kata-kata menggoda dengan adanya magnet berupa bunyi yang sama. Bunyi yang sama itu sebenarnya adalah sisi hidup daripada kata-kata. Itulah mengapa kata-kata menjadi makhluk, dan jiwa yang lain. Sutardji menegaskan bahwa ini penting, supaya seorang penyair tidak hanya menjadikan kata-kata sebagai beban pesan. Karena kata-kata adalah pesan itu sendiri.

-admin el-