Oleh Katrin Bandel

Berangkat dari subjudul
Antologi puisi setebal 443 halaman yang diterbitkan tahun 2017 ini (Lembaga Seni & Sastra Reboeng) diberi subjudul “Puisi Religi Muslimah”. Saya ingin mengawali pembahasan saya dengan pengamatan terhadap subjudul itu. Sebagai sebuah klasifikasi yang menandakan kekhususan tertentu, baik terkait gender dan agama penyair, maupun terkait topik atau corak puisi, subjudul ini menarik direnungkan. Apa yang dimaksudkan dengan klasifikasi tersebut, dan bagaimana antologi Berbagi Zikir diposisikan di tengah dunia sastra lewat subjudul itu?
1. Muslimah. “Muslimah” di sini merujuk pada identitas ke-35 penyair yang puisinya dikumpulkan dalam antologi ini: mereka perempuan, dan beragama Islam. Seperti yang dijelaskan dalam pengantar penerbit, memang sejak awal antologi ini diniatkan untuk secara khusus hanya memuat puisi dari penyair dengan identitas khusus tersebut. Mengapa demikian?
Mengumpulkan karya sastra berdasarkan identitas pengarang bukanlah hal yang langka atau aneh. Hal semacam itu cukup umum dilakukan, baik di dunia sastra, maupun menyangkut jenis teks lain (non-sastra). Statusnya biasanya sebagai bagian dari representasi diri kaum tertentu. Dengan kata lain, antologi berbasis identitas pengarang umumnya menjadi bagian dari politik identitas. Misalnya, ada antologi penulis dari daerah tertentu, antologi karya mahasiswa, antologi karya lesbian, … Kebiasaan tersebut tidak hanya ada di Indonesia, namun justru juga sangat populer di dunia internasional. Pola yang bisa diamati secana umum adalah bahwa lewat antologi sejenis itu, kaum tertentu berusaha menunjukkan eksistensinya dan menghadirkan suaranya. Kaum yang berpolitik identitas semacam itu hampir selalu bersifat marjinal, atau memahami diri sebagai termarjinalkan. Justru karena marjinal itulah, dibutuhkan usaha khusus untuk mengangkat identitas mereka lewat penerbitan kumpulan karya mereka. Belum pernah saya lihat, misalnya, sebuah antologi yang eksplisit menyatakan niatnya untuk secara khusus memuat karya pengarang laki-laki kulit putih, meskipun pada kenyataannya, tidak akan sulit untuk menemukan antologi yang semua karyanya ditulis oleh laki-laki berkulit putih.
Dengan latar belakang tersebut, subjudul antologi Berbagi Zikir terasa agak aneh. Indonesia adalah negara bermayoritas Muslim. Di antara penyairnya pun, tentu mayoritasnya Muslim. Jumlah perempuan di antaranya mungkin tidak sebanyak penyair laki-laki, tapi saya rasa, di masa kini dunia sastra sama sekali tidak lagi didominasi laki-laki secara mencolok. Dengan demikian, “Muslimah” bukanlah sebuah identitas marjinal di Indonesia, termasuk di dunia sastra. Maka, mengapa muncul keinginan untuk secara khusus mengumpulkan puisi Muslimah?
2. puisi religi. Apa yang dimaksudkan dengan “puisi religi”? Seperti yang dijelaskan dalam pengantar penerbit, para penyair “diundang oleh Penerbit Reboeng untuk mengirimkan masing-masing 10 buah puisi bertema religi atau semacam itu” (hlm. xvii). Maka, menjadi jelas bahwa kata “religi” di sini merujuk terutama pada tema puisi, meskipun penerbit tampak agak ragu, tepatnya apa yang diharapkan, seperti yang tercermin lewat tambahan “atau semacam itu”. Memang tidak mudah: tepatnya apa yang bisa disebut “puisi religi”? Tampaknya secara implisit, terdapat asumsi bahwa puisi pada umumnya tidak bersifat religius (tidak “bertema religi”), sehingga “puisi religi” perlu secara khusus difasilitasi dan dikumpulkan dalam sebuah antologi.
Hal ini pun, sekali lagi, dapat dikatakan cukup aneh. Di sebuah negara yang menempatkan “ketuhanan yang maha esa” sebagai salah satu asas utamanya, mengapa corak religius dalam karya sastra dirasakan sebagai sebuah kekhususan, atau bahkan sebagai marjinal? Bukankah seharusnya, dengan mengikuti logika sederhana, dalam sebuah masyarakat dimana agama menduduki posisi yang sangat tinggi, religiusitas dengan sendirinya tercermin dalam setiap karya sastranya?

Jadi bagaimana dengan subjudul antologi Berbagi Zikir ini? Apakah subjudul itu kurang tepat, atau konsep antologinya salah secara keseluruhan? Saya pikir, bukan demikian. Sebaliknya: Tampaknya penggagas antologi ini secara cukup tepat merasakan sebuah kondisi ganjil yang menjadi realitas di Indonesia, yaitu bahwa di negara bermayoritas Muslim terbesar di dunia ini, identitas Muslimah serta tema religi menjadi sesuatu yang marjinal. Hanya saja, saking kuatnya wacana mainstream berupa asumsi bahwa karya sastra itu umumnya dan sewajarnya bersifat “sekuler” tanpa warna religius, keadaan tersebut tidak dirasakan sebagai sebuah keganjilan.

Puisi religius di tengah kondisi pascakolonial
Mengapa keadaannya seganjil itu? Keganjilan tersebut bisa dijelaskan sebagai implikasi logis dari kondisi pascakolonial. Kolonialisme Eropa telah berhasil menjadikan budaya Eropa sebagai rujukan utama serta sebagai standar penilaian di berbagai wilayah kehidupan manusia di seluruh dunia. Sebagai contoh saja, mari kita melihat dunia fashion. Di kota Yogyakarta ini, misalnya, tidak sulit kita temukan berbagai jenis toko pakaian. Toko batik, lurik, pakaian Muslim, dan, tentu saja, toko-toko yang tidak ada penamaan khususnya, alias “toko pakaian umum”. Yang terakhir ini biasanya menjual pakaian yang modelnya merujuk pada mode negara-negara Barat. Dengan kata lain, yang “umum” dan dianggap standar (sehingga tidak perlu dinamai secara khusus) adalah yang “Barat”.
Tampaknya, serupa itu pula keadaannya di dunia sastra. Seperti baju Muslimah, “puisi religi” menduduki ruang tertentu yang dianggap khusus, dengan asumsi bahwa karya sastra yang standar bukanlah yang religius. Dan seperti dalam kasus toko pakaian, yang dianggap standar itu tidak ada penamaan khususnya. Mau disebut apa? “Sekuler”? “Netral”? “Umum”? Entahlah.
Apakah itu berarti bahwa dalam karya-karya yang tidak secara khusus diklasifikasikan sebagai religius, religiusitas dan spiritualitas penulisnya tidak terekspresikan? Saya pikir bukan demikian. Namun karena adanya asumsi bahwa karya sastra yang “standar” adalah yang non-religius, maka nilai religius/spiritual jarang menjadi sorotan. Sebagai akibatnya, sudah sewajarnya kalau di tengah penulis muncul keinginan untuk lebih mengekspresikan aspek kehidupan mereka yang dikesampingkan tersebut, yaitu religiusitas mereka. Maka lahirlah politik identitas dengan corak tertentu, yaitu identitas keislaman yang diekspresikan secara eksplisit lewat karya sastra, umumnya dengan label khusus, seperti “novel islami”, atau “puisi religi Muslimah” dalam kasus antologi yang sedang kita bicarakan.

Implikasi negatif politik identitas Muslim
Konstruksi identitas religius sebagai identitas yang khusus tersebut memiliki implikasi yang belum tentu positif. Secara ideal, keislaman mewarnai seluruh kehidupan seorang Muslim. Spiritualitas hadir dalam keseharian, kerapkali tanpa secara khusus terdefisikan sebagai bagian dari praktek agama. Namun ketika sedang berpolitik identitas, maka umumnya yang akan ditonjolkan seseorang bukanlah perjuangan sehari-hari yang sulit didefinisikan dan diklasifikasikan tersebut. Politik identitas membutuhkan simbol dan ekspresi eksplisit, sebagai tanda identitas khusus yang ingin dikemukakan. Di samping itu, hal-hal yang dapat melemahkan posisi diri dan identitas yang sedang diwakili dan dibela, seperti misalnya keraguan terhadap identitas itu sendiri, cenderung tidak akan diungkapkan.
Menurut hemat saya, kondisi tersebut sangat mewarnai antologi Berbagi Zikir. Meskipun di antara puisi yang terkumpul di antologi ini banyak yang menarik, secara keseluruhan tampaknya beban kewajiban untuk mewakili Islam, secara khusus lewat suara Muslimah, cenderung membatasi ekspresi penyair dengan cara yang belum tentu menguntungkan. Berikut saya akan sekadar dengan sekilas menyampaikan dua poin:
1. Dari segi tema yang dipilih, mayoritas puisi berfokus pada ibadah, terkadang dengan menyapa Tuhan secara langsung seperti dalam doa, pada pemaknaan pribadi atas kisah-kisah dari Al Qur’an atau hadits, atau pada momen-momen kehidupan yang khusus, seperti misalnya kelahiran dan kematian, yang secara umum di masyarakat memang seringkali dikaitkan dengan agama. Dengan kata lain, yang mengemuka adalah aktifitas dan momen khusus dimana keislaman dihayati secara sangat sadar. Namun bukankah kehidupan lebih luas daripada itu? Di mana, misalnya, dunia kerja dengan segala permasalahannya, masalah-masalah ekonomi, dan segala macam bentuk kepusingan dan stres sehari-hari yang lainnya? Bukankah justru di situlah medan pertarungan kita sebagai manusia beragama?
2. Hubungan seseorang dengan Tuhannya tidak selalu berjalan mulus, tanpa gejolak. Dalam pencarian, ada kalanya orang memberontak, atau mempertanyakan segala sesuatu. Dalam sejarah sastra Indonesia, salah satu contoh menarik adalah puisi Chairil Anwar yang berjudul “Di Masjid” (1943). Dalam puisi itu, dengan eksplisit Chairil menggambarkan sebuah pertarungan antara Tuhan yang berusaha menundukkannya, dan dirinya yang “tak bisa diperkuda”. Masjid di situ menjadi “gelanggang kami [yaitu, Tuhan dan dirinya] berperang”.
Pengalaman spiritual yang intens dan menarik semacam itu tampaknya sulit dihadirkan di masa kini yang kental diwarnai politik identitas. Ketika sedang dalam posisi harus merepresentasikan Islam dan mewakili suara Muslimah di tengah gelanggang global dimana suara itu dipersepsi sebagai marjinal, Muslimah “baik-baik” mana yang berani menulis puisi pertarungan spiritual seperti Chairil? Bisa-bisa dituduh sesat atau murtad…

Kesimpulan
Wacana mainstream memposisikan religi di satu sudut kehidupan, yaitu sebagai unsur khusus dari kehidupan manusia yang secara keseluruhan diasumsikan tidak bersifat religius. Politik identitas kemudian memberi jalan pada “sudut khusus” itu untuk mengekspresikan diri. Dalam bersastra, mengelak dari keadaan tersebut menjadi sangat sulit. Berbagi Zikir mencoba menawarkan puisi dengan corak yang khusus, namun masih terjebak dalam belenggu politik identitas.