Catatan Ahmadun Yosi Herfanda

Disampaikan dalam diskusi buku puisi “Berbagi Zikir” di UPI Bandung

27 September 2017

 

Saya merasa gembira ketika diminta Ibu Nana Ernawati untuk menjadi kurator antologi puisi Berbagi Zikir yang memuat sajak-sajak Islami para perempuan penyair Indonesia. Pertama, karena akan mendapat kesempatan menjadi “pembaca pertama” sajak-sajak religius mereka. Dan, kedua, nama-nama mereka sudah merupakan “hasil kurasi” (pilihan), sehingga sajak-sajak yang dikirim ke saya juga merupakan sajak-sajak pilihan dan saya tinggal melakukan “finalisasi”.

Rata-rata tiap penyair menyertakan delapan puisi, dan jika diloloskan lima puisi untuk tiap penyair, maka saya tinggal menyisihkan sedikit puisi saja. Ini suatu pekerjaan yang tidak berat. Namun, hasil kurasi saya tetaplah harus dapat dipertanggungjawabkan secara literer, karena sudah diproyeksikan oleh Panitia (Reboeng), bahwa Berbagi Zikir  akan menjadi buku penting dalam khasanah sastra Indonesia. Artinya, saya tidak boleh asal memilih.

Satu-satunya hal yang ditekankan oleh Panitia adalah agar saya memilih sajak-sajak yang memang Islami dari sajak-sajak 37 penyair calon peserta Berbagi Zikir — satu penyair (Abidah el Khalieqy) kemudian mengundurkan diri, sehingga tinggal 36 penyair. Meskipun begitu, saya tetap mempertimbangkan aspek keelokan tiap puisi, atau aspek estetik (puitika)-nya. Dengan kata lain, unsur-unsur instrinsik (tema, rima, ritme, citraan, dan diksi) tiap puisi tetap menjadi pertimbang. Apakah sang penyair dapat memanfaatkan unsur-unsur instrinksik itu dengan baik atau tidak. Karena, sebagai karya seni bahasa, percuma saja sebuah puisi berbicara secara Islami, jika dengan cara yang kurang puitik.

***

Pemilihan puisi dari aspek instrinsik sebenarnya sudah mencakup tematiknya, atau isinya. Dengan demikian, aspek Islaminya otomatis sudah tersetuh. Karena, setelah melihat bagaimana sang penyair memanfaatkan rima, ritme, citraan, dan diksi, secara harmonis dan maksimal, pembaca otomatis akan melihat temanya, isinya, persoalan yang digarap oleh penyair, dan pesan puisi tersebut.

Akan tetapi, berbicara tentang puisi Islami, ternyata tidak sesederhana itu. Istilah “Islami” sendiri mencakup konsep nilai yang luas, dalam, dan kompleks. Karena itu, saya tetap harus berhati-hati, dan jangan sampai terjebak pada konsep nilai yang formalistik, sehingga hanya meloloskan sajak-sajak yang bernada dakwah secara eksplisit. Saya coba memaknai pengertian Islami yang bersifat substansial, atau kultural.

Itu artinya, sajak-sajak Islami yang saya bayangkan tidaklah selalu berbicara tentang sahadat, sholat, puasa, zakat, dan haji, atau adab-adab (perilaku) Islami secara harfiyah. Juga tidaklah selalu dipenuhi seruan takbir atau zikir secara eksplisit. Sebuah sajak yang menghayati keindahan alam sebagai ciptaan Allah, juga dapat dianggap Islami. Sebab, sajak yang mengagumi keindahan alam, yang mampu mengajak pembacanya ingat pada Allah Sang Maha Pencipta, adalah juga bernilai zikir, adalah juga Islami. Sebab, dengan begitu pembaca jadi makin menghayati salah satu sifat Allah yang Maha Indah dan menyukai keindahan (innallaha jamilun yuhibbul jamal). Begitu juga sajak yang mengajak untuk bersikap adil, dermawan, bersikap santun, kasih sayang pada sesama, dan penghormatan pada orang tua, adalah juga Islami.

Dengan begitu, saya lebih berharap terkumpulnya sajak-sajak religius yang bersifat universal, sajak-sajak yang mencerminkan kesalehan alam, kesalehan lingkungan, kesalehan sosial, dan berbagai kesalehan spiritual lainnya, yang disublimasi dan diekspresikan dalam rangkain kata yang indah dan bermakna. Sajak-sajak indah, yang secara estetik mempesona rasa keindahan pembacanya, dan secara tematik dapat mencerahkan hati nurani pembacanya.

***

Sesungguhnya, tiap penyair Muslim, laki-laki maupun perempuan, jika benar-benar memahami dan menghayati kemuslimannya, akan otomatis melahirkan sajak-sajak Islami ketika menulis puisi. Sebab, kelahiran puisi selalu dipengaruhi oleh “memori bawah sadar” penyairnya. Apapun yang mengendap di alam bawah sadar – pengamalan membaca dan menulis, ideologi dan keyakinan beragama, pengalaman beribadah, dan berbagai pengalaman hidup lainnya – akan mempengaruhi puisi yang ditulis oleh penyair sesuai dengan tema (isi) yang dipilihnya. Karena, definisi sederhana puisi adalah “ekspresi pikiran dan perasaan dalam susunan kata yang indah dan bermakna” – suatu ekspresi yang tak terlepas dari memori bawah sadar penyair.

Di alam bawah sadar itu pula mengendap berbagai hal yang di dalam teori sastra disebut sebagai “aspek ekstrinksik”, seperti filsafat, agama, tasawuf, konsep sosial, budaya, dan politik, serta berbagai konsep nilai serta berbagai kearifan hidup yang berasal dari luar sastra. Karena itu, semakin rajin penyair membaca, maka sajak-sajak yang dia tulis akan makin dalam dan kaya nilai.

Begitu juga dari sisi pembaca. Sebuah puisi akan semakin kaya makna di tangan pembaca yang memiliki pengetahuan luas tentang tema yang diangkat oleh penyairnya. Puisi sederhana karya Abdul Hadi WM, “Tuhan, Kita Begitu Dekat”, misalnya, dapat menghasilkan tafsir yang sangat panjang, dalam, dan luas – bahkan dapat menghasilkan desertasi – di tangan pembaca (penafsir) yang memiliki pengetahuan luas tentang tasawuf.

***

Dengan pendekatan seperti itu, kurang lebih, saya memilih sajak-sajak yang dikirimkan Panitia kepada saya, dan kurang lebih begitu juga yang dilakukan oleh Ulfathin Ch. Hasilnya adalah buku antologi puisi tebal, Berbagi Zikir, Puisi Religi Muslimah, yang saat ini ada di hadapan hadirin.

Itu adalah sebuah antologi puisi yang merefleksikan sikap keislaman, sikap religius, 36 penyair yang ada di dalamnya. Sebuah antologi puisi yang sangat penting bagi khasanah sastra Indonesia, karena berisi sajak-sajak religius karya para penyair Muslimah terpenting dan terkini di Tanah Air.***