Cover buku_berbagi dzikir

Sedikit kutipan dari ulasan ttg perempuan yg menulis..

Dalam kuliah umumnya yang bertepatan dengan peringatan Hari Perempuan Internasional, 8 Maret 2017 di Universitas Melbourne, Australia, feminis Germaine Greer mengemukakan kekecewaannya terhadap media massa yang cenderung lebih tertarik memberitakan hal-hal yang remeh temeh tentang kehidupannya daripada pemikirannya. Karenanya, ia menulis dan merekam sendiri ide, kegelisahan, juga pandangannya tentang berbagai hal. Hari itu, koleksi arsip Germain Greer pun dirayakan. Setelah diolah dan dikurasi dengan baik oleh sebuah tim khusus di perpustakaan kampus, koleksi ini pun menjadi pintu untuk para peneliti serta masyarakat umum untuk menyelami alam pikiran dan kegelisahan penulis yang disebut sebagai salah satu tokoh feminis paling berpengaruh dari era gelombang kedua feminisme di paruh kedua abad ke-20 ini. Koleksi arsip yang antara lain mencakup surat, audio diary, foto, video, berita majalah dan surat kabar ini, menempati rak arsip sepanjang 82 meter dan terbilang masif untuk rentang waktu 1959-2010 karir sang feminis itu. Yang mengesankan dari pidato Greer yang telah berusia 78 tahun ini adalah semangatnya yang tak surut untuk menulis dan menyuarakan pandangannya. Ternyata, salah satu hal yang membuat semangat dan stamina menulisnya terjaga karena Greer selalu ingin mengabadikan momentum. “Bukan untuk membanggakan diri sendiri, tapi untuk menjadi inspirasi bagi orang lain. Arsip ini menyimpan komentar-komentar saya terhadap berbagai peristiwa penting di dunia. Dan bila koleksi ini pada akhirnya dapat diakses oleh publik, orang akan tahu pandangan seorang perempuan tentang berbagai hal …”

Di buku Berbagi Zikir,dibahas pula tentang mengapa perempuan menulis?
Diulas oleh DR Lily Yulianti Farid,University of Melbourne

Lily Yulianti Farid, lahir di Makassar, 16 July 1971 adalah penulis Indonesia. Mengarang cerita sejak kecil, namun sempat meninggalkan kegemaran ini saat meniti karier sebagai jurnalis. Saat ini dia tinggal di Melbourne, Australia. Dia pernah belajar di Universitas Hasanudin pada bidang teknik pertanian, dimana dia memulai karier sastranya pada majalah kampus, “Identitas”.

Setelah lulus, ia menjadi wartawan pada Harian Kompas (1996 – 2000). Pada tahun 2001 hingga 2004, ia mengambil gelar master pada studi “Gender and Development” (Jender dan Pembangunan). Pada tahun 2010 ia mendaftar untuk program Doktor pada bidang “Gender and Media” pada universitas yang sama dan direncanakan lulus pada tahun 2014. Selama masa studinya di Melbourne, ia melanjutkan menulis jurnalistik dengan bekerja sebagai produser Radio Australia, Melbourne (2001-2004). Ia juga bekerja sebagai spesialis program radio/produser pada Radio Jepang NHK World, Tokyo (2004 – 2008). Selama periode tersebut, pada 2006 ia menjadi kolumnis untuk “Nytid News Magazine”, Norway, dan masih berhubungan dengan majalah tersebut hingga saat ini.

Ia memulai kariernya sebagai penulis dan jurnalis, dan terlibat pada beberapa proyek independen, seperti “Panyingkul!” (www.panyingkul.dom) yang didirikan pada 1 July 2006, suatu media online yang memperkenalkan konsep “citizen journalism”, yang berbasis di Makassar. Ia mencurahkan sebagian waktunya mengelola media independen ini, selain menulis artikel untuk media di dalam dan luar negeri.

Buku kumpulan cerpen pertamanya, Makkunrai, terbit bulan Maret 2008 (Nala Cipta Litera) yang kemudian menginspirasinya menggelar pendidikan kesadaran jender, korupsi, poligami, dan politik dari perspektif perempuan, melalui karya sastra dan pertunjukan monolog yang diberi nama “Makkunrai Project”, yang digagas bersama penulis dan pemonolog, Luna Vidya.

Pada bulan September 2008, Maiasaura, buku kumpulan cerita yang kedua diterbitkan oleh Panyingkul!, berdasarkan kumpulan jurnal, berita, dan dokumen dari organisasi wanita non-pemerintah, laporan-laporan organisasi hak asasi manusia dan berbagai media lainnya.

Kemudian Lily menulis kumpulan cerita pendek berjudul “Ruang Keluarga”, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris “Family Room”, bersama dengan Makkunrai dan Maiasaura oleh Yayasan Lontar sebagai bagian dari Seri “Modern Library of Indonesia.” Cerita pendeknya, Dapur (“The Kitchen”), dipublikasikan pada edisi Januari 2009 oleh jurnal “Words without Borders” yang berbasis di Chicago.

Pada tahun 2009, ia menjadi pembicara utama panel dengan topik “Global Journalism and Organizing” pada Konperensi tahun 2009 “Women, Action & The Media” di Cambridge. Pada tahun 2010, ia mendirikan rumah budaya “Rumata Artspace” sebagai proyek bersama dengan sutradara film Riri Riza. “Rumata”, yang berarti rumah kita dalam bahasa Bugis-Makassar, bertujuan sebagai forum independen untuk perkembangan seni dan budaya di Makassar dan kebangkitan tradisi sastra Sulawesi Selatan.

Ia juga diakui sebagai penggagas dan sutradara “Makassar International Writers Festival” (MIWF) atau Festival Penulis Internasional Makassar pada pertengahan Juni tahun 2011. Keyakinannya yang kuat akan penulisan sastra dan tradisi baca membawa dia untuk menghadiri beberapa festival penulis di beberapa negara seperti Singapura, Australia, Perancis, Belanda, danaHongkong, selain juga di Ubud, Bali, dan Utan Kayu, Jakarta.

Untuk sementara waktu tinggal di Tokyo dan senantiasa berusaha meluangkan waktu menemani putranya, Fawwas Naufal Farid, yang juga gemar mengarang cerita.